Sabtu, 05 April 2014

Promise



setelah melakukan one on one dengan Murasakibara, Akashi berubah derastis, semua anggota generation of miracle di buat terkejut, terlebih lagi Kuroko yang baru pulang dari membujuk Aomine yang sepulangnya mendapatkan orang lain dalam tubuh sang kapten, ia bahkan menanyakan “Siapa kau?” pada sang kapten yang mengeluarkan aura aneh yang sangat dingin dan dominan, namun sang kapten saat itu hanya menjawab “aku Akashi Seijuurou”
di tengah kebingungan di antara perkembangan cepat yang tak terkontrol dari para KISEDAI dan perubahan menakutkan dari Akashi, seorang anak kecil mendatangi Kuroko dan Momoi saat itu dan meminta kedua orang itu berjanji padanya
“Berjanjilah Kuroko-nii dan Momoi-nee jangan membenci Sei-nii kumohon, dan tolong kalahkan Sei-nii lalu kembalikan Sei-nii seperti dulu”
.
.
.
Promise © LiYuAi
Kuroko no basket © Fujimaki-sensei
Semi canon, oc, ooc, gaje, abal, miss typos, etc
Kuroko T, Momoi S, Akashi Yuki (OC)
K
Friendship, family
..
.
DLDR
..
.
Enjoy it
..
.
LiYuAi present
Promise
.
..
.
            Sore itu hujan deras mengguyur seisi Tokyo membuat dua insan berbeda jenis terpaksa berteduh di salah satu kedai kopi, dan berharap hujan mereda dengan cepat, seragam khas Teikou gakuen mereka sedikit basah namun tampaknya mereka tak terlalu mengacuhkannya, secangkir cappuchio hangat terhidang di depan mereka, tak ada obrolan atau sekedar omongan ringan di antara mereka, hanya ada kesunyian yang menggigit.
            Raut wajah kedua insan itu benar-benar tak menyiratkan rasa senang atau apapun, hanya ada siratan khawatir dan sedih di sana, kedai kopi yang kosong hanya diisi kedua insan ini pun tampaknya semakin membuat keduanya terlarut dalam pikiran mereka masing-masig
            Sekian puluh menit telah berlalu dan mereka masih diam, sesekali keduanya menyesap cappuchino yang masih mengepul hangat “Ne, Kuroko-kun apakah semuanya bisa kembali seperti dulu lagi?” nada suara pesimis dan sedih itu dilontarkan oleh sang gadis bersurai merah muda kepada pemuda di depannya yang masih memandang kosong hujan yang kian menderas
            “Entahlah, Momoi-san aku tak yakin, semuanya bertindak semaunya sendiri dan kemampuan mereka berkembang melebihi normal, belum lagi masalah Akashi-kun” pemuda itu menghela nafas dan mengalihkan pandangannya memandang gadis di depannya lalu melempar senyum sedih “Aku tak yakin, semuanya sudah menghilang sekarang”
            Kesunyian kembali menyapa mereka berdua, namun tak lama karena denting lonceng kecil di depan pintu masuk berbunyi nyaring, menandakan seorang pelanggan baru dating, namun keduanya tak menggubris pelanggan itu dan mereka tetap pada fikiran mereka masing-masing
            “ada yang bisa kami bantu, gadis kecil?” suara waiter membuat pelanggan itu tersenyum ramah dan mengangguk kecil
            “tolong Ceylon tea di meja no 15 itu ya” suara manis gadis itu membuat sang waiter mengangguk dan tersenyum
            “baiklah tunggu sebentar”
            Langkah kecil gadis itu bergerak cepat menuju meja Kuroko dan Momoi, ia sedikit mendongak karena tinggi meja itu melebihi tingginya sekitar 2 centian lagi “onii-san, onee-san boleh aku bergabung di meja kalian?” sapaan dari suara manis itu sukses membuat Kuroko dan Momoi yang masih melayangkan fikiran mereka entah kemana itu menoleh
            Kedua insan itu menoleh dan mendapati sosok gadis kecil dengan surai crimson sepinggang yang di hias bandana putih dengan motif bunga-bunga kecil dan dress manis layaknya princess yang mengembang cantik berwarna senada rambut panjangnya
            Keduanya melongo sesaat, gadis kecil ini manis sangat manis dengan senyumnya yang mengembang itu ia mirip seseorang, “masaka?” Momoi terkesiap dan menoleh reflex kearah Kuroko begitupun Kuroko, sesaat mereka saling berpandangan dalam diam
            “ne, boleh kah?” gadis kecil itu kembali mengulangi kata-katanya, dan reflex Momoi dan Kuroko mengangguk, dan tanpa basa-basi gadis itu mengambil tempat duduk di samping Kuroko mencoba untuk duduk namun ia tak bisa karena kursinya terlalu tinggi untuknya, dan Kuroko dengan senyum khas nya membantu gadis kecil itu duduk
            “arigatou nii-chan” kelewat cepat sapaan gadis itu mengakrab? Membuat Kuroko menggernyit heran namun ia berfikir namanya juga anak kecil tak apalah, lain halnya dengan Momoi yang sekarang tersenyum-senyum sendiri ‘ah kami seperti pasangan ayah dan ibu’ fikir gadis itu, entah hilang kemana galaunya tadi
            “sumimasen, saya membawa pesanan” seorang waiter datang dengan segelas porselen yang berisi cairan kuning pucat keemasan yang berbau lembut, lalu menghidangkannya dan kembali pergi
            “nah, gadis kecil bisa kau beri tahu namamu?, atau kau tersesat mencari orang tuamu?” Momoi memulai pembicaraan dan gadis kecil di depannya merespon dengan mengambil cangkir teh nya dengan gaya yang khas dan menyesapnya pelan
            Kedua mahluk biru dan pink itu melongo sesaat, gaya minum teh yang di perlihatkan gadis itu sungguh mirip gaya bangsawan, ringan, anggun, sopan, dan bertatakrama. Meletakkan cangkirnya gadis itu kembali tersenyum “Akashi Yuki desu”
            Blarrr… ada sesuatu yang pecah difikiran keduanya ‘pantas ia mirip seseorang, ternyata ia mirip Akashi-kun’ fikir mereka bersamaan “ano, Akashi-san …”
            “Yuki saja nii-chan” potong gadis itu saat Kuroko baru akan bicara “ah baiklah Yuki, apakah kau adik dari Akashi-kun? Ehm maksud ku Akashi Seijuurou-kun?” gadis itu mengagguk pelan dan menarik senyumnya, membuat ekspresi ceria yang sedari tadi di pajangnya menghilang dengan ekspresi sulit bagi anak kecil seumuran dengannya
            “Ya aku adik Seinii-chan, dan nii-chan banyak cerita tentang Kuroko-nii dan Momoi-nii” ujarnya masih dengan ekspresi yang sama, namun itu membuat kedua orang itu berekspresi pahit
            Momoi mengambil gelas chappuchino di depannya lalu menyesapnya “lalu apakah kau tersesat?” Yuki menggeleng menerima pertanyaan dari Momoi
            “lalu kenapa kau kesini? Hanya untuk berteduhkah?” Kuroko mengikuti jejak Momoi melempar pertanyaan dan menyesap cappuchino nya
            “ya aku kesini untuk berteduh dan melihat kalian berdua persis seperti orang dalam foto yang di tunjukkan nii-chan padaku tiap malam, dan seragam kalian mirip seragam nii-chan jadi kuputuskan untuk menghampiri kalian berdua, namun bukan hanya itu yang ku lakukan disini”
            Kuroko dan Momoi mengerjap mendengar kata-kata gadis kecil itu, bukan soal berteduh ataupun gadis kecil itu mengenal mereka namun soal ‘Akashi menunjukan foto mereka tiap malam pada adiknya’ untuk apa coba? “hah, kalau kalian tak percaya ini” gadis kecil itu mengeluarkan handphone nya yang notabene nya sangat tidak mungkin dimiliki anak seumuran dengan gadis ini
            Namun bukan itu yang mereka permasalahkan sekarang, hanya foto yang menjadi wallpaper gadis itu
terangnya 7 warna bahagia namun hanya dalam kenangan.jpg
            Foto mereka semua yang bermandi keringat dalam balutan jersey Teikou dang mereka tampak senang serta sebuah piala besar di tangan sang kapten, itu foto mereka saat mereka pertama kali memenangkan inter high dan saat itu mereka masih sebagai tim yang solid
            Momoi merasakan matanya memanas dan selanjutnya hanya ada isakan darinya, sementara Kuroko tersenyum pahit “kenapa? Kenapa Akashi-kun menunjukanmu foto itu?”
            “karena kata Sei-nii, kalian adalah tim terhebat” jujur gadis itu dan mata crimson yang sama persis seperti punya kakak nya itu berkaca, tak lama tangis gadis kecil itu pecah dan dengan cepatnya gadis itu memeluk pinggang Kuroko “Kurko-nii kumohon, kumohon berjanjilah sesuatu padaku”
            Kuroko terhenyak, dan perlahan ia membelai surai lembut itu “katakan Akashi kecil?” suara Kuroko terdengar begetar, semua kejadian buruk dengan Aomine di tepi sungai di bawah jembatan saat hujan, perkataan Akashi, sikap Murasakibara dan perubahan besar-besaran pada Generation of Miracle serta perpecahan tim yang sangat ia banggakan dulu kembali menyelinap di otaknya
            “Berjanjilah Kuroko-nii dan Momoi-nee jangan membenci Sei-nii kumohon, dan tolong kalahkan Sei-nii lalu kembalikan Sei-nii seperti dulu” isak gadis itu membuat Kuroko menganga sesaat dan Momoi menghentikan tangisnya “sekarang nii-chan bukan lagi nii-chan, nii-chan berubah , nii-chan tak lagi bercerita padaku tiap malam tentang timnya yang hebat serta seorang manager cantik yang pintar, nii-chan tak lagi menunjukanku foto-foto kalian semua, bahkan nii-chan tak lagi berbicara kepadaku, nii-chan tak lagi memperdulikanku” isak gadis itu
            Hati Kuroko dan Momoi mencelos mendengarnya, masaka? Akashi setega itu dengan adiknya sendiri? Ataukah perubahan Akashi itu yang membuat benar-benar lupa segalanya, dan reflex Kuroko mengepalkan tangannya meredam emosinya membayangkan semua itu
            “masaka? Akashi-kun sampai seperti itu dengan adiknya? Walaupun Dai-chan juga seperti itu denganku” Momoi semakin kesal dan air matanya semakin deras saja bercucuran
            “tolong nii-chan, nee-chan tolong kembalikan Seijuurou nii bukan Akashi nii,” desis gadis itu dalam isakannya, dan Kuroko terperangah mendengarnya, ingatannya saat berbicara berdua dengan Akashi saat itu saat dimana Akashi bilang ‘sejak awal di dalam tubuh ini ada dua orang, dan sekarang mereka bertukar tempat’ berarti memang Akashi punya dua kepribadian
            “maaf tapi kami tak tahu caranya” Kuroko tertunduk lesu gadis kecil di pelukannya mendongak menatap wajahnya “kalahkan nii-chan, maka Akashi-nii akan kembali ketempatnya semula dan Sei-nii akan kembali pada kita”
            Kuroko dan Momoi sontak menggeleng tak yakin “Akashi-kun terlalu kuat, ia lebih kuat dari Kiseki no Sedai yang lainnya, tak mungkin aku dan Kuroko-kun bisa mengalahkannya, dan dalam hal apapun Akashi-kun itu sempurna”
            Gadis kecil itu menggeleng dan melepaskan pelukannya pada Kuroko, meronggoh sakunya lalu menyodorkan sebuah wrist brand biru muda pada Kuroko “kalau begitu kalahkan nii-chan di dalam basket di olah raga kesukaannya, dan aku yakin Kuroko-nii pasti bisa” gadis itu menyerahkan wrist brand pada Kuroko “lalu untuk Momoi-nee jagalah nii-chan dan anggota yang lain, karena kata Sei-nii one-chan manager yang baik dan pintar”
            Tak ada hal yang pasti dalam kata-kata anak kecil sepertinya namun Momoi berhenti menangis dan Kuroko tersenyum samar, gadis kecil itu juga menampikkan tangisnya dan menunjukan senyum manisnya, kedua orang itu tercengang
            Senyum lembut gadis ini mirip sekali senyum Akashi saat dimana Akashi menolong seorang gadis yang menjatuhkan beberapa seragam basket Teikou yang baru di cuci dan itu dulu sekali saat mereka masih kelas VII awal dan belum ada yang berubah, itu membuat perlahan senyum semangat teukir di wajah gadis manis manager tim basket Teikou itu.
            Beda dengan fikiran Momoi, namun Kuroko merasakannya juga senyuman yang sama saat dimana Akashi menariknya dari 3rd string ke 1st string, lalu senyum lembut Akashi saat ia berhasil menunjukan pada semuanya kemampuannya dan mendapat pengakuan semuanya, lalu senyum saat mereka pertama kali memenangkan inter high, senyum lembut yang khas senyum menentramkan yang membawa semangat
            Dan mereka semua berakhir dengan senyuman semangat “bukan Cuma Akashi-kun yang akan ku kalahkan dan kuubah namun semuanya juga akan kuubah” Kuroko berujar antusias, dan Momoi mengangguk menyetujuinya
            “kalau begitu bagaimana jika mengobrol dengan santai dan bahagia untuk sore ini saja sampai hujan selesai?”
Ħ
            Pagi itu cukup cerah dan Kuroko serta Momoi sudah mendapatkan tujuan mereka kembali serta mendapat semangat dari seorang gadis kecil yang manis kemarin sore dan disini mereka berdua di lapangan indoor berlatih basket dengan anggota yang lainnya walaupun para Kiseki no Sedai tak satupun yang datang berlatih
            Sampai Momoi di panggil ke ruang pelatih untuk menyusun berkas-berkas formulir pendaftaran para member di klub basket yang sudah berdebu, dan maniknya menemukan formulir yang diisi oleh Akashi, dan dengan sangat jelas disana terisi Akashi tidak mempunyai saudara satupun membuatnya melongo sesaat “lalu siapa Yuki?” desisnya kecil
            “Satsuki, sedang apa kau pelatih menyuruhku membantu mu menyusun berkas disini” suara itu sontak membuat gadis merah muda itu menoleh dan mendapati sang kapten di belakangnya yang menatapnya datar dan membantunya membereskan berkas-berkas itu
            “eh, Akashi-kun” gagapnya namun tak di sambut oleh orang yang bersangkutan, selama beberapa saat mereka diam, memebereskan berkas-berkas itu sampai Momoi merasa tingkat penasarannya melambung tinggi “Akashi-kun boleh aku bertanya sesuatu?”
            “ya?”
            “apakah Akashi-kun punya seorang adik perempuan?”
            Beberapa saat kegiatan Akashi terhenti, maniknya membulat “tidak!” jawabnya singkat membuat Momoi bungkam
            “bukankah Akashi Yuki itu adik mu Akashi-kun?” suara dari balik pintu membuat Momoi dan Akashi yang tengah membereskan berkas menoleh dan menemukan Kuroko yang masih dengan jersey nya datang mendekat
            “ya dia adikku, namun sudah bukan lagi” sentak Akashi cepat dan kembali menekuni berkas yang sudah siap ia angkat keluar
            “kenapa kau tak menganggap ia adik mu lagi?” Kuroko menggeram dan Akashi berbalik dengan setumpuk berkas di tangannya yang siap ia bawa keluar, dan dengan santainya ia berjalan keluar, namun saat berpapasan dengan Kuroko ia diam sejenak
            “karena ia sudah meninggal 5 tahun lalu” Akashi berbisik dan meninggalkan ruangan itu membuat Kuroko terhenyak begitupun dengan Momoi karena bisikan Akashi tadi pelan namun cukup keras untuk di dengar di ruangan sesepi ini
            Keduanya diam sesaat lalu senyum semangat tersimpul di wajah Kuroko
“aku pasti akan memenuhi janjiku Yuki-chan, membawa kembali Seijuurou onii-chan mu dan para para Kisedai yang lain.”
OWARI
Sabtu, 22 februari 2014
16:47

Tidak ada komentar:

Posting Komentar